Header Ads

Burung - burung beracun dari Papua

Tanah papua tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai burung sorga dan langka, tetapi juga menjadi habitat beberapa burung yang sangat unik seperti burung paruh sabit coklat (Epimachus meyeri) yang pernah menipu pasukan jepang hingga kocar - kacir di masa perang dengan suara kicauannya yang mirip senapan mesin.
Di papua ini juga terdapat jenis burung yang sudah tercatat dalam The Genius Book of World Record ( Buku Rekor Dunia ) sebagai salah satu burung yang paling beracun di dunia.  Burung yang juga memiliki suara yang indah ini , kemungkinan juga menjadi burung yang paling aman dalam populasinya dikarenakan memiliki racun yang terdapat dalam permukaan kulit maupun bulu-bulunya.
Hooded pitohui si burung beracung dari Papua
Hooded pitohui si burung beracung dari Papua
Pitohui (genus Pitohui) merupakan burung endemik Papua dan Papua nugini, yang termasuk dalam keluarga pachycphalidae. Saat ini, enam spesies diklasifikasikan dalam genus Pitohui ini, meskipun penelitian genetika molekuler saat ini menunjukkan reklasifikasi signifikan dari Pachycephalidae mungkin diperlukan. Ke-6 spesies yang penyebarannya meliputi Kep. Aru, Papua, Papua barat dan Papua Nugini tersebut adalah :
  1. Variable Pitohui (Pitohui kirhocephalus)
  2. Hooded Pitohui  (Pitohui dichrous)
  3. White-bellied Pitohui, (Pitohui incertus)
  4. Rusty Pitohui (Pitohui ferrugineus)
  5. Crested Pitohui  (Pitohui cristatus)
  6. Black Pitohui (Pitohui nigrescens)
Ke enam spesies pitohui adalah burung beracun dan yang pertama kali di identifikasi pada adalah hooded pitohui di ikuti variable pitohui dan rusty pitohui.
6 spesies Pitohui
6 spesies Pitohui
Burung hooded pitohui ini memiliki warna - warna yang lebih cerah dibanding spesies lainnya, seperti yang kita ketahui di alam liar, hewan atau binatang beracun biasanya ditandai dengan tubuhnya yang memiliki warna-warna yang sangat cerah, hal tersebut juga sebagai tanda peringatan bagi binatang pemangsa atau predator, dan seperti banyak hewan beracun lainnya, burung pitohui ini juga memancarkan bau busuk dan mengiklankan toksisitas dengan warna-warna cerah yang dimilikinya.
Hooded pitohui dari papua
Hooded pitohui dari papua
Bahkan bukan hanya itu, kemampuan burung ini menggunakan racun juga dimanfaatkan untuk menjaga telur - telur mereka dari mangsa binatang predator, yaitu dengan cara menggesekan racun yang berada ditubuhnya pada telur - telur mereka.
Dari ke enam genus pitohui ini, sebuah neurotoxin yang disebut homobatrachotoxin ditemukan di lapisan kulit dan juga bulu-bulu dari burung tersebut. Bahan kimia ini sebenarnya adalah racun alami yang paling kuat dikenal manusia. Bahkan, peneliti menyuntikkan beberapa neurotoksin ini ke seekor tikus  dan seketika itu juga tikus tersebut langsung mati. Untuk sebagian besar burung ini akan menyebabkan mati rasa dan kesemutan, bersin dan gejala minor lainnya bila menyentuh ataupun memegangnya. Efek samping yang serius seperti kelumpuhan dan kematian akan terjadi jika  sering terjadi kontak dengan racun yang terdapat pada burung ini.
Yang menarik adalah tidak semua burung dari genus pitohui tersebut mengandung jumlah yang sama dari racun tersebut, dalam beberapa kasus para peneliti akan langsung bersin dan menunjukan gejala-gejala keracunan hanya berada dekat dengan burung tersebut, tetapi pada lain waktu, hal tersebut tidak terjadi.
Hal ini menunjukkan bahwa burung-burung yang memperoleh racun mereka dari sumber eksternal, dan dalam kasus ini pitohui memperoleh toksin mereka dari sumber makanan utama mereka, yaitu kumbang yang dikenal dengan nama Choresine Beetle dari keluarga Melyridae, dan sepertinya kumbang ini jugalah yang merupakan sumber batrachotoxins mematikan yang ditemukan pada katak panah beracun di Kolombia.
Selain dari genus pitohui, terdapat beberapa spesies lagi yang juga memiliki racun batrachotoxins (BTXs)  yaitu:
1. Little Shrikethrush (Colluricincla megarhyncha), yang juga dikenal dengan nama Rufous Shrikethrush, yang termasuk spesies burung dari keluarda Colluricinclidae family, yang bisa di temukan di Australia, Indonesia, and Papua New Guinea. Karakter dan sifat racun yang dimiliki burung ini memiliki kesamaan dengan yang dimiliki burung dari genus pitohui.
 Little Shrikethrush (Colluricincla megarhyncha) si burung beracun
Little Shrikethrush (Colluricincla megarhyncha) si burung beracun
2. Blue-capped Ifrit (Ifrita kowaldi), dikenal juga dengan nama Blue-capped Ifrita, yang termasuk burung pemakan serangga endemik Papua dan New Guinea. Racun yang sama juga ditemukan dalam kulit dan bulu dari burung ini.
Blue
Blue-capped Ifrit (Ifrita kowaldi) yang memiliki racun yang sama
==
Suara - suara kicauan
Meski mengandung racun, namun suara kicauan mereka sangat menarik dan penuh variasi. Berikut ini adalah beberapa jenis suara dari burung yang sudah disebutkan di atas:
Suara hooded pitohui | Download
-
Suara hooded pitohui 2  | Download
-
Suara Little shrikethrush | Download
-
Suara Blue-capped ifrita | Download-
Itulah beberapa keunikan dari burung - burung endemik khas Negara Kita, dan sebagai kicau mania patutlah sekiranya kita turut berperan serta dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan alam agar burung - burung unik tersebut terhindar dari kepunahan dan perdagangan gelap.
Semoga bermanfaat
Powered by Blogger.